Paroki Cideng.org

Gereja Maria Bunda Perantara

Sejarah Paroki

A. Kilasan

 

Gereja Santa Maria Bunda Perantara (MBP) yang terletak di Jl. Tanah Abang II No. 105, Cideng, bukanlah bangunan yang megah jika semata-mata dilihat dari bangunan phisiknya. Meskipun berada dijalan raya yang berjalur lalu lintas ramai, keberadaannya tidak menonjol karena letaknya diapit oleh bangunan perkantoran dan rumah tinggal yang lain. Suasana menjadi berbeda pada hari Sabtu, Minggu atau Hari Besar umat Kristiani, Gereja Maria Bunda Perantara menjadi fokus di daerah tersebut, karena ramainya umat yang datang untuk hadir dalam kegiatan-kegiatan ibadah yang diadakan.

 

Awal perkembangan Gereja MBP dapat dikatakan hampir bersamaan dengan berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan tumbuh berkembang hingga kini. Pada masa awal, rumah yang semula digunakan sebagai rumah tinggal Pastor, selanjutnya dikembangkan menjadi tempat ibadah yang sederhana, berupa bangunan semi permanen, yang akhirnya menjadi bangun permanen bertingkat.

 

Masa perkembangan serta pertumbuhan umat dan Gereja MBP, dapat dibagi dalam tiga periode yang penting bagi eksistensi Gereja dan Paroki Cideng, yakni :

 

1. Periode Awal.

 

Masa penjajahan Jepang (1942-1945). Situasi bangsa pada saat itu, merupakan masa yang sulit dan berat bagi seluruh rakyat Indonesia. Pada masa itu, daerah Cideng merupakan daerah yang menakutkan karena kerawanan keamanannya.

 

Di daerah Cideng ini terdapat Kamp. Internir, dimana para penduduknya berkebangsaan Belanda ditawan. Setelah Perang Dunia II berakhir, para tawanan dibebaskan dan salah satunya adalah seorang pastor dari Ordo Fransiskan yang bernama Pastor Cjser Hell OFM, yang kemudian dikenal sebagai Pastor Radio karena kegiatan Gerejanya banyak melalui siaran radio.

 

Sejak pembebasannya tersebut, Pastor C. Hell, OFM menempati rumah di Jl. Tanah Abang II No. 105 dan kemudian dijadikannya sebagai kapel untuk kegiatan ibadah. Kapel tersebut hanya berupa bangunan kecil dan sederhana, yang hanya dapat menampung kurang lebih 50 umat, tetapi Kapel inilah yang dapat dikatakan sebagai cikal bakal dari Gereja Maria Bunda Perantara, dan merupakan awal Sejarah Paroki Cideng.

 

Berhubung jumlah umat pada saat itu belum banyak, maka Uskup belum dapat menyutujui untuk merekomendasikan Kapel diatas sebagai Gereja. Antara bulan November 1946 hingga bulan Juni 1947 ada beberapa kegiatan pembabtisan yang dilaksanakan di kapel tersebut.

 

2. Periode terbentuknya STASI

 

Sekitar tahun 1947-1948, Paroki Kemakmuran yang dilayani tarekat MSC, mulai membina umat di Cideng, dan menjadikannya sebagai STASI dari Paroki Kemakmuran tersebut. Dari catatan di sekretariat Paroki Kemakmuran tidak diketemukan nama Pastor pertama yang membina Stasi Cideng tersebut.

 

Berikut adalah para Pastor dari Ordo MSC yang pernah bertugas:

- Pastor Polman, MSC : sekitar tahun 1948-1953 dan 1962 – 1964

- Pastor Brocker, MSC : sekitar tahun 1953 – 1962

- Pastor Brouwer, MSC : sekitar tahun 1962 – 1968

- Pastor Wilhelmus Kintup, MSC : sekitar tahun 1970 hingga 1977

 

Sedangkan Pastor – Pastor lain yang membantu, antara lain :

 

- Pastor v.d. Heuvel, MSC

- Pastor de Wit, MSC

- Pator Zagwaard, MSC : tahun 1970 hingga 1975

 

3. Periode Paroki Cideng

 

Dengan berjalannya waktu, perkembangan aktivitas ibadat umat berjalan pesat dan jumlah umat juga bertambah banyak, maka mulai dirasakan kebutuhan akan gedung Gereja permanen yang lebih besar dan representatif. Karena itu mulai dilakukan pembangunan gedung Gereja baru di lahan bangunan yang lama dan berlangsung selama tahun 1973 – 1974.

Sakremen Pembaptisan mulai dicatat dalam buku Baptis di Paroki Cideng secara tersendiri sejak tanggal 6 April 1975 (sebelumnya dicatat di Paroki Kemakmuran). Gedung Gereja kemudian diberkati pada tanggal 8 Juni 1975 oleh Bapak Uskup Agung Jakarta Mgr. Leo Soekoto, SJ (alm)

 

Tanggal 25 September 1977 Bapak Uskup mendirikan Badan Hukum Paroki Cideng dengan nama “Pengurus Gereja dan Dana Papa (PGDP) Roma Katholik Gereja Santa Maria Bunda Perantara”, dengan personalia sebagai berikut :

1. Ketua  : Pastor Ign. Soesilasoewarna, MSC

2. Wakil Ketua I : Bapak R. Sutanto

3. Wakil Ketua II : Bapak Handjojo

4. Sekretaris I  :  Bapak Sukardi

5. Sekretaris II : Ibu Lien aditiawan

6. Bendahara  : Bapak R.J. Firman

 

Para pastor yang bertugas adalah:

o Pastor Wilhelmus Kinturp, MSC   : bertugas tahun 1970-1977

o Pastor Ignatius Soesilawarna, MSC : bertugas April 1977 hingga 1986

o Pastor Titus Rahail Sr. MSC   : bertugas tahun 1986 hingga 1991

o Pastor Soeripto, MSC   : bertugas 10-02-1991 hingga 05-08-1991

o Pastor Tarsisius  Leisubun, MSC   : bertugas 01-03-1992 hingga februari 1999

o Pastor Yulius Anastasia Palit, MSC  : bertugas 01-04-1999 hingga

 

Selain itu tercatat Pastor – Pastor dari Rumah Induk Tarekat MSC yang datang membantu ke Paroki Cideng, antara lain:

- Pastor John Lefteuw, MSC : bertugas 23-08-1991 hingga Januari 1992

- Pastor Joannes Sukmana,MSC : bertugas 23-01-1992 hingga 01-03-1992

- Pastor Johanis Mengko, MSC :

- Pastor Laurentius Jӧtten, MSC : tahun 1975 hingga –

 

Serta Pastor – Pastor lain yang membantu dan mendukung kegiatan Paroki Cideng, antara lain:

Pastor Yos Somar, Pr.

 

B. Pertumbuhan Fisik

 

Perkembangan bangunan Gereja sejalan dengan perkembangan iman dan umat, yang tumbuh antara lain karena berkembangnya jumlah penduduk didaerah Cideng. Dari bangunan yang berupa rumah tinggal, dan sebagian digunakan juga untuk Kapel, yang hanya dapat menampung 50 umat, kemudian diadakan dua kali renovasi pada masa Pastor Polman, MSC bertugas. Renovasi yang pertama dilakukan dengan pemindahan kamar tidur/kerja Pastor yang semula berada dalam gedung Gereja bagian belakang kesamping bangunan. Renovasi kedua merupakan perluasan bangunan Gereja sehingga dapat menampung sekitar 200 orang, meskipun dinding bangunan masih terbuat dari anyaman bambu (gedek).

 

Selama pekerjaan renovasi kedua ini. Misa mingguan diadakan di Jl. Musi / Batanghari (sekarang Gereja Protestan Petrus), bergiliran dengan kebaktian umat Protestan. Dari hal ini dapat dicatat bahwa pada masa itu terjalin semangat kerjasama yang baik dan toleransi yang tinggi antar umat Katolik dan umat Gereja Protestan di daerah terebut.

 

Dalam pekerjaan pembangunan / renovasi diatas, tokoh awam telah banyak menyumbangkan tenaga, pemikiran dan materi, antara lain dalam rangka Pencarian Dana yaitu Bapak Kwee Tat Goan SH (alm), Bapak Liem San yan (alm) dan Bapak Cornelius Lie Soen Hwie.

 

Pada tahun 1970, Pastor Wilhelmus Kintrup, MSC (asal dari Jerman) yang pernah bertugas di China selama 20 tahun dan juga di pedalaman Irian Barat, pada waktu bertugas di Paroki Cideng merasakan kebutuhan yang mendesak untuk membangun Gereja yang lebih representative serta permanen, karena pada saat itu Gereja selalu terendam air kalau turun hujan lebat.

 

Ada catatatan unik mengenai hal diatas, yaitu suatu pagi waktu Pastor Kintrup bangun tidur dan turun dari tempat tidurnya, ia merasakan seakan – akan tercebur kedalam kolam air. Ia tidak sadar seluruh bangunan Gereja dan Pastoran telah digenangi air setinggi lutut akibat hujan deras semalam suntuk. Peristiwa tersebut dianggapnya sebagai suatu “tanda”, untuk segera membangun gedung Gereja baru.


Karena itu pada tahun 1970, dibentuk Panitia Pembangunan Gereja yang terdiri dari 3 orang, yaitu sebagai Ketua Bapak Himawan, Sekretaris Ibu Soewandi dan Bendahara Bapak R.J. Firman. Pada waktu itu Pastor Kintrup, MSC telah berusaha mendapatkan lahan bangunan yang lebih luas disekitar daerah Cideng. Namun pendekatan yang dilakukan terhadap pemilik lahan maupun kepada instansi yang memberikan ijin, tidak membuahkan hasil.

 

Berhubung usaha pengumpulan dana dan segala macam kegiatan yang dilakukan, tidak menghasilkan dana yang cukup untuk pembagunan, maka beliau berangkat ke Jerman untuk mencoba mendapatkan dana tambahan yang diperlukan, yaitu sekitar dua pertiga dari total anggaran pembangunan. Meskipun ada yang pesimis tentang misi ke Jerman, tetapi Pastor Kintrup sendiri merasa optimis. Dan ternyata misinya mendatangkan hasil seperti yang diharapkan.

 

Pada waktu itu sumbangan juga diterima dari Gubernur DKI Ali Sadikin atas nama Pemerintah Daerah, serta Fonds Solidaritas Keuskupan, Masing – masing satu juta rupiah.

 

Pada tahun 1973-1974 dilakukan pembangunan Gereja baru dengan membongkar seluruh bangunan lama menjadi bangunan Gereja baru yang permanen. Sebagai Arsitek adalah Ir.Liem Bian Poen, sedang pemberi tugas (Bouwheer) merangkap sebagai pengawas adalah Pastor Kemper, MSC. Selama masa pembangunan berlangsung, misa mingguan diadakan disalah satu ruang sekolah BPSK yang berlokasi di seberang Gereja.

Setelah pembangunan phisik Gereja selesai, kemudian Gereja diberi nama GEREJA SANTA MARIA BUNDA PERANTARA yang setelah itu diberkati oleh uskup Agung Jakarta Leo Soekoto, SJ (alm) pada tanggal 8 Juni 1975.

 

Pada 31 Oktober 1983, Gua Maria pertama yang merupakan sumbangan Bapak R.J. Firman, diberkati oleh Pastor Ign. Soesilasoewarna, MSC.

 

Pada masa tugas Pastor Titus Rahail. MSC (1986-1991) pernah tercetus pemikiran untuk melengkapi Paroki dengan mendirikan Sekolah, Pastoran, Renovasi Gereja, serta pembanguna Aula.

 

Sementara itu pada bulan Desember 1987, kursi yang ada di Gereja diganti dengan bangku baru atas sumbangan Bapak S. Djunaidi Rusli, yang juga sangat membantu pembanguan gedung Pastoran di jalan Cipunegara no. 1 tahun 1997.

 

Tanggal 18 April 1989 didirikan Yayasan VERIUS HANDAYANI yang bergerak dalam bidang pendidikan.

 

Pada pertengahan tahun 1989 sempat dibuka sekolah, dengan nama yang sama dengan Yayasan, bertempat di gedung Gereja dan kemudian pernah pula memakai rumah di Jl. Tanah Abang IV/48.

Akan tetapi pada tahun 1992, sekolah terebut terpaksa tutup karena alasan teknis serta atas pertimbangan Bapak Uskup saat itu.

 

Pada masa tugas Pastor Tarsisius Leisubun, MSC (1992-1999) diadakan usaha untuk pemugaran Gereja dan membangun sebuah gedung Pastoran yang ideal. Untuk mendapatkan lokasi Pastoran yang lebih dekat dengan Gereja, maka rumah di Jl. Tanah Abang IV/48 yang telah digunakan sebagai Pastoran dijual dan kemudian membeli rumah dijalan Cipunegara No. 1 Jakarta Pusat.

 

Tanggal 29 November 1992 Gedung Pastoran pindah ke jalan Cipunegara No. 1. Sekitar bulan Desember 1992 Pengurus Gereja dan Dana Papa (PGDP) berupaya merealisasikan rencana pemugaran Gereja. Pencarian dana dilakukan dengan mengadakan malam dana di Casablanca dan Hotel Le Meredian pada tanggal 9 Januari dan tanggal 11 April 1993.

 

Panitia Pemugaran Gereja dipimpin oleh Bapak Alex Susanto Hidayat, Pemugaran Gereja telah dilaksanakan dengan hasil Gereja yang bagus, nyaman dan sejuk karena Ber-AC.

 

Selanjutnya pada awal tahun 1997 diadakan usaha untuk membangun gedung Pastoran. Ijin dari Keuskupan Agung Jakarta telah didapat dan selanjutnya perencanaan disiapkan.

 

Dari Kas Paroki yang hanya berjumlah lebih kurang empat puluh empat juta rupiah ditambah hasil Pengumpulan Dana dari Pesta 25 tahun Imamat Pastor Tarsisius Leisubun, MSC sejumlah lebih dari empat puluh lima juta rupiah, serta sumbangan  - sumbangan umat, maka pembangunan gedung Pastoran lengkap (yang meliputi biaya sebesar empat ratus empat puluh dua juta rupiah) akhirnya dapat dilaksanakan. Meskipun masih terdapat kekurangan dana, tetapi ditanggulangi lebih dulu oleh Bapak S. Djunedi Rusli, dan baru dapat terlunasi dengan angsuran Kolekte II setiap Misa hari Sabtu dan Minggu, yang berlangsung hampir tiga tahun.

 

Pada awal tahun 1998 gedung Pastoran jl. Cipunegara No. 1, diberkati oleh Pastor Hans Kwakman MSC pemimpin Tarekat MSC provinsi Indonesia.

 

Pada masa tugas Pastor Yulius A. Palit, MSC ( mulai 1 April 1999 -  ), pencerahan suasana bangunan Gereja maupun Pastoran dilakukan dengan pengawasan yang cermat dan kontinyu agar lebih bersih, sejuk dan menarik.

 

Pada Masa tugas Pastor Agustinus Soplanit, MSC, pemugaran Gua Maria, dan pencerahan pastoran dilakukan. Juga penyemangat kondisi seluruh anggota dewan hingga umat Paroki Cideng.

 

C. Perkembangan Iman Gerejani

 

Seperti diutarakan sebelumnya; usaha, kegiatan dan dedikasi Pastor C. Hell, OFM merupakan awal dari terbentuk dan tumbuhnya IMAN GEREJANI pada umat Cideng meskipun pengelolaan Gereja saat itu masih sangat sederhana.

 

Pada masa bakti Pastor W. Kintrup, MSC (1970-1977) berhembus angina segar yang memberikan wajah baru bagi Gereja. Umat mendapat perhatian cukup antara lain karena beliau sering melakukan kunjungan umat, kegiatan Misa / pertemuan lingkungan berjalan lebih teratur. Sejak tahun 1973, sejalan dengan program dari Keuskupan maka di Paroki Cideng terbentuk Satuan Kelompok Umat Katholik yang disebut LINGKUNGAN. Pada saat itu, terbentuk delapan Lingkungan, setiap Lingkungan masih sangat sederhana, organisasinya dipimpin oleh Ketua Lingkungan. Nama dari Lingkungan – lingkungan diambil dari nama SANTO dan SANTA. Kedelapan Lingkungan tersebut dibagi dalam dua Wilayah, yang masing – masing dikoordinir oleh Ketua wilayah.

 

Tahun 1974 terbentuk DEWAN PAROKI yang pertama, dipimpin oleh Pastor W. Kintrup, MSC dan sebagai Wakil Bapak Rudy Sutanto. Anggota pengurus DEWAN PAROKI yang lain adalah Bapak Handjojo dan Bapak R.J.Firman.

 

Kegiatan koor Gereja juga mulai tumbuh, yang dirintis oleh Bapak R.J. Firman, Ibu Moniaga dan Bapak Ir. Ardi Gunawan.

 

Sarana komunikasi untuk umat berupa selebaranpun dibuat, pada awalnya berupa media cetak yang di beri nama WARTA CIDENG. Kemudian dikembangkan dengan bimbingan Pastor Titus Tahail MSC dengan nama IMPACT ( Informasi Mingguan Paroki Anda Cideng Tercinta). Pada tahun belakangan berubah namanya menjadi BERITA PAROKI.

 

Tugas penggembalaan Pastor Ignatius Soesilasoewarna, MSC (1977-1986) memberikan warna kepemimpinan yang khas, beliau sangat dekat dengan kaum muda. Semangat untuk berkreasi selalu didorong, sehingga hampir setiap hari Raya Gereja Katholik, acara disi dengan TABLO, perarakan dan lomba – lomba yang bersifat liturgis.

 

Beliaupun mengizinkan halaman depan Gereja dipakai untuk berlatih Olah Raga Bela Diri. Kegiatan Mudika pernah tampil dalam acara TVRI mengisi acara Ruang Agama Katolik. Mereka berdialog secara polos tetapi penuh makna dengan Pastor Soesilo ( panggilan akrab Pastor I. Soesilasoewarna, MSC) sebagai nara sumbernya, mengenai tema : “ Pandangan Kaum Muda terhadap ajaran Kristus”.

Sekolah minggu yang didirikan adalah salah satu karya masa kepemimpinan Pastor Susilo, dan saat sekarang dikenal sebagai Sekolah Bina Iman (SBI) Santa Theresia.

 

Pada tanggal 8 Oktober 1978 berdiri Legio Maria Presedium “Bunda Penebus”.

Atas dasar pertimbangan jangkauan dan sistimatis pelayanan Gereja, maka pada periode ini, jumlah Lingkungan dikembangan dari delapan menjadi sembilan lingkungan. Lingkungan ANTONIUS dimekarkan, dan Lingkungan baru itu dinamakan Lingkungan St. YOSEF. Wilayah juga dikembangkan menjadi tiga dengan nama Wilayah 1, 2 dan 3.

 

Hingga saat ini bangunan fisik Gereja Maria Bunda Perantara Cideng masih terus dalam tahap pengembangan agar dapat sesuai dengan kebutuhan umat dengan menjaga rasa hikmat dalam berdoa.

 

Berikut terdapat beberapa foto perkembangan Gereja Maria Bunda Perantara - Cideng sejak periode awal hingga kini.

<< Kembali